Sebagaimana diketahui, isu perempuan dan anak adalah cross cutting issues dan melebur disetiap lini pembangunan. Untuk memecahkan berbagai permasalahan yang terkait dengan perempuan dan anak tentunya dibutuhkan koordinasi yang kuat dari semua pemangku kepentingan yang ada mulai dari pemerintah Provinsi hingga ke masyarakat, baik di perkotaan maupun di desa/kelurahan.

Penguatan koordinasi menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menghadirkan peran daerah dalam menjawab tantangan dan permasalahan perempuan dan anak. Salah satu tantangan terbesar yang menjadi fokus perhatian adalah tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Mulai KDRT, hingga kejahatan seksual yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Setidaknya merilis data yang ada seperti dari catatan Komnas Perempuan, setiap 1 jam ada 28 perempuan mengalami kekerasan. Kemudian Berdasarkan data dari Sistem Online DP3AP2KB Provinsi Kepulauan Riau (Simfoni PPA dan Cek Dare Kepri), terdapat 248 kasus terhadap anak terjadi sepanjang tahun 2017 di provinsi Kepri, yakni 95 kasus kekerasan seksual terhadap anak, 47 kasus pencurian, 37 kasus kekerasan fisik, dan sisanya kasus penelantaran dan trafficking terhadap anak. Sedangkan jika dipersentasekan, kasus kekerasan seksual terhadap anak mendominasi kasus kekerasan yang diterima anak, sekitar 38% dari kasus yang terjadi merupakan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Diantara kasus-kasus tersebut telah ditangani dan mendapat pelayanan di P2TP2A, PPA dan KPPAD baik tingkat Provinsi Kepri maupun tingkat kabupaten kota.