Masalah yang berkaitan dengan anak semakin beraneka ragam seiring perkembangan jaman. Ini menjadi tantangan bagi Negara, masyarakat, keluarga dan orang tua untuk menyikapi permasalahan tersebut sekaligus melakukan upaya pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan anak. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia telah memunculkan gagasan dalam upaya menarik keterlibatan masyarakat melalui One Student Save One Family (OSSOF), dimana adanya keterlibatan mahasiswa/i dapat ikut serta dalam upaya bersama melindungi keluarga.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia mengadakan Diskusi Tematik Staf Khusus Menteri dengan tema “Peran Mahasiswa Dalam Perlindungan Anak Indonesia. Acara diadakan di Aula Poltekes Kemnkes RI Tanjungpinang, Jalan Arif Rahman Hakim, Sei Jang, Tanjungpinang, Kamis (11/10/2018). Kegiataan ini dihadiri kurang lebih 100 peserta utusan berbagai perwakilan mahasiswa di Tanjungpinang dan Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, seperti UMRAH, Poltekes Kemnkes RI Tanjungpinang, Stisipol Raja Haji, STIE Pembangunan, STTI Tanjungpinang, STAI MU, STAIN Sultan Abdurrahman, Akbid Anugerah Bintan Tanjungpinang, Stikes Hang Tuah dan Perwakilan (Pembina Kemahasiswaan) Perguruan Tinggi di Tanjungpinang dan Bintan, Dinas DP3AKB Provinsi Kepulauan Riau serta perwakilan media. Sebagai narasumber Ir.Albaet Pikri (staf khusus Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak) serta Elvi, S.Sos, MM (Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Provinsi Kepulauan Riau) serta moderator Hermowo.

Dalam sambutannnya Kaprodi Kesling Hevi Hoaza, M.Si menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan ini, semoga banyak manfaatnya serta bisa disebarluaskan informasi kepada masyarakat dan diharapkan mahasiswa menjadi pelopor perlindungan anak. Sementara itu Ir.Albaet Pikri sebagai Staf khusus Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak memaparkan bahwa dasar Hukum terkait perlindungan anak berdasarkan pasal 20 UU No.35 Tahun 2014 tentang tanggung jawab bersama perlindungan anak serta pasal 72 UU N0.35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Menurut Beliau, mahasiswa memiliki peran penting dalam perlindungan Anak Indonesia di sebabkan mahasiswa dekat dengan anak (dari segi usia, komunikasi, psikologis), mahasiswa sebagai Iron stock, agent of change dan sosial control dan mahasiswa lebih berpotensi dari segi mobilitas, kuantitas,dan kualitas). Bahaya Laten merupakan bahaya yang tidak tampak dipermukaan, Bahaya Laten ini juga mengancam anak-anak dapat terjadi di tempat yang dianggap aman. Pelakunya pun bisa dilakukan orang-orang yang dianggap aman. Berbagai pengaruh negatif seperti NAFZA dan miras, Pedofilia, LGBT, kekerasan, pelecehan seksual , seks bebas, kecanduan internet/Game Online serta perdagangan manusia.

Bentuk Peran mahasiswa banding activities, kegiatan rohani, aksi lingkungan, kesenian, olah raga, membuat meme positif, video vlog (vlog), perlombaan dan sebagainya. Tujuannya untuk memberikan kegiataan positif kepada anak dan sebagai media penyuluhan dalam meningkatkan ketahanan anak serta keluarga dari pengaruh negatif. Selanjutnya Elvi, S.Sos, MM (Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Provinsi Kepulauan Riau) memaparkan Dasar hukum perlindungan anak di Provinsi Kepulauan Riau, kebijakan Perlindungan Anak, Konvensi Hak Anak, Prinsip-prinsip pembangunan anak, Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), Sekolah Ramah Anak, Puskesmas Ramah Anak.

Diakhir diskusi disampaikan pula bahwa dengan dilaksanakannya kegiatan Diskusi Tematik ini diharapkan menjadi upaya aktif penggalian ide-ide keterlibatan mahasiswa/i perguruan tinggi khususnya mahasiswa/i perguruan tinggi di Provinsi Kepulauan Riau membantu Pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap anak-anak di Indonesia umumnya dan Kepulauan Riau khususnya, semoga dapat memberikan masukan yang konstruktif terkait perlindungan anak dalam beragam kegiatan - kegiatan intra/ekstra organisasi di kampus dan kegiatan kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini Mahasiswa/i Tanjungpinang dan Bintan akan membentuk Forum Mahasiswa Peduli Anak, yang merupakan wadah partisipasi bagi mahasiswa/i peduli anak yang di kelola oleh mahasiswa/i, bekerjasama dengan pemerintah, dan berperan memberikan masukan, aspirasi dalam program dan kegiatan Perlindungan Anak Daerah”